Oleh : Marianna C Nussy
AMBON,TABAOSNews.Com.- Hidup ini tiada yang abadi, sebab pada waktunya, semua yang hidup akan mengakhiri hari-harinya di dunia ini. Sepenggal kalimat bijak ini, menandai hidup manusia yang bagai debu tak berguna.
Perjuangan Pdt emiritus Ny Jacoba Amelia Tuhumena/Silooy Ssi yang akrab dipanggil Ibu Co, lahir di Desa Amahusu pada tanggal 11-11-1951 mesti diakhiri sesuai kehendak sang pencipta di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada tanggal 11-07-2022 jam 23:25 Wita. di usia 70 tahun .
Semangatnya untuk bisa menikmati kesembuhan menjadi impian yang membuatnya tak lelah berjuang.
Mulai dari Rumah Sakit Gereja Protestan Maluku (GPM) saat itu hingga ke Makasar membuat wanita hitam manis berhati tegar itu tak gentar walau tubuhnya kian lemah tapi semangatnya tak pernah pudar.
Ingat saat pertama kali masuk rumah sakit Ibu Co sangat bersemangat untuk sembuh total.
” Ma Mei, itu beta pung pakaian deng handuk semua su siap di dalam tas, kalau suster tanya” ujar Ibu Co awal berjuang dengan sakitnya saat harus dirawat di salah satu ruangan pavilium Rumah Sakit GPM, waktu itu.
Perjuangan sakitnya, tidak membuatnya lemah. Bahkan sebagai pendeta jemaat yang pernah melayani di Jemaat Bethel sosok Ibu Co begitu dekat. Setiap melewati lorong kadondong ibu Co akan selalu menyapa mereka yang ditemui, bahkan tak pandang umur. Dari anak-anak hingga mereka yang beruban putih.
Penah menempati salah satu pastori milik Jemaat Bethel di Tanah Tinggi, Ibu Co terbilang akrab dengan semua warga Tanah Tinggi yang mencakup sektor 9,10 dan 11.
Sebagai Majelis jemaat di periode itu, banyak kenangan yang terajut bersama. Bahkan, pastori menjadi tempat dimana kami saling bercerita, bertegur sapa, bahkan kritikan pedis. Begitu banyak cerita pelayanan yang mewarnai setiap perjumpaan.
” Ini rumah jemaat ma, jadi kapan saja mau pakai silahkan, datang manyimpang lalu pakai par ibadah , jang pake tanya-tanya lai” ujar Ibu Co saat beta dan beberapa teman majelis datang koordinasi tempat ibadah.
Bahkan suatu saat, anak dari Almarhum Pdt A Orno meninggal, Ibu Co dengan senang memberi pastori yang sementara ditempati untuk menaruh jenazah. Bahkan Ibu Co dengan rasa kasihnya memberi kehangatan saat keluarga yang juga pendeta berduka. Saat itu, kel Pdt A Orno menempati Pastori Sinode dan kondisinya tidak memungkinkan untuk menerima keluarga dan kerabat yang akan datang melayat dalam jumlah yang banyak .
” Ma, di sini saja jua, ruangan luas sehingga keluarga pak Abe dan Ibu Merry bisa duduk terima keluarga dengan baik” celoteh Ibu Co, membuat beta dan teman teman majelis semangat untuk mempersiapkan pastori .
Suatu saat, Ibu Co telepon, Merry, ini Ongen dengan isterinya bersama keluarga besar mau masuk di rumah Lilibooy. Ini adat masuk rumah, ale MC e.
“Pasti Ibu, nnt pagi-pagi beta dari Ambon deng ojek saja ” balas beta bersemangat.
” Ingatang datang tempo” ingatnya.
Hari itu, proses adat masuk rumah dari Ongen, isterinya dr Olivia dan orang tua yang berdarah Batak sebagai bahagian dari proses adat orang Maluku berjalan dengan sukses.
Amplop putih panjang disodorkan Ibu Co begitu bt pamit mau pulang.
“Jang lai Ibu, astaga ” tolak bt halus. Karena hubungan kami memang bersaudara, Ibu Co dari Amahusu sama dengan beta .
” Ma Mei su mulai sabarang, ambel. Kaseng tar ada jadi MC lai kalau katong ada parlu” balas Ibu Co dengan nada tinggi., beta pun mengambilnya sambil berpelukan sebagai tanda terima kasih.
Tak sampai disitu, Ibu Co sering mengunjungi keluarga di Tanah Tinggi tanpa diundang. Bahkan Ia tak segan langsung menuju meja makan, begitu sampai di rumah yang dituju.
Keakraban seorang pendeta dan keluarga jemaat memberi catatan yang pedih saat berita duka datang. Banyak yang tak menyangka kepergian Ibu Co yang terlihat tegar dibandingkan suaminya bapak Pdt Nus Tuhumena yang juga dalam kondisi sakit begitu cepat dipanggil pulang untuk selamanya oleh sang pencipta.
Beberapa waktu lalu, beta sempat bertemu Iv anak perempuannya yang juga sama-sama seorang Majelis Jemaat di Bethel.
“If, mama kabar bagaimana” tanya beta .
“Masih di rumah sakit ma Mei. Memang dokter bilang, ibu pendeta su bisa pulang, nanti rawat jalan saja. Tapi mama jawab, seng pak dokter, beta pung anak perempuan bilang tinggal disini saja jang kaluar lai, nanti dia bale ” ujar Iv disambut beta dengan tertawa.
“Tau mama toh Iv, semangatnya itu seng pernah pudar. Luar biasa Iv, mama sangat kuat” ujar beta .
Tak berapa lama, kabar duka itu datang, Ibu Co telah meninggal dalam perjuangannya untuk meraih kesembuhan.
Ibu Co memang selalu tegar dengan sakitnya, tak pernah mengeluh bahkan sangat bersemangat .
Dari sepenggal cerita ini, tak semua orang bisa setegar Ibu Co. Dalam penderitaan sakitnya, Ia selalu menunjukan semangatnya yang tinggi. Asal untuk sembuh dan bisa kembali ke Ambon bertemu kekasih hatinya yang juga dalam kondisi lemah karena sakit.
Bahkan kerinduannya untuk bisa menikmati hidup yang lebih lama dengan anak-anak dan cucu serta semua orang basudara . Tapi apa yang menjadi keinginannya dijawab Tuhan dengan menghentikan seluruh aktifitasnya di dunia.
Selamat bertemu sang pencipta, Pdt Ny Yacoba Amelia Tuhumena/Silooy Ssi. Perjuanganmu telah berakhir di dunia ini. Kasih Tuhan akan selalu menguatkan suami terkasih, Pdt Nus Tuhumena serta ketiga anak, Jimmy, Iv dan Ferdy serta menantu dan cucu-cucu bahkan keluarga besar Silooy-Tuhumena .
Duka kami memberi pelajaran hidup bahwasanya kematian adalah desain indah Allah yang tak bisa dicegah. Hidup adalah anugerah yang terindah dan mesti dijalani dengan rasa syukur apapun warnanya.
Semua penggalan cerita indah menjadi catatan manis tentang arti melayani . Selamat jalan Ibu Co doa kami menyertai mu . (***)
