AMBON,TABAOSNews.com.- Gaya loncat Partai yang dilakukan kader partai sekaligus isteri Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Provinsi Maluku, Murad Ismail ke Partai Amanat Nasional (PAN) disaat struktur partai sementara bekerja menyambut moment Pilkada serentak 2024 ditanggapi secara kritis. Bahkan loncat partai yang dipertotonkan bukan tindakan politik yang mendidik bahkan dinilai sangat tidak elok.
Harusnya sikap sebagai kader sekaligus isteri Ketua Partai menjadi contoh yang baik bagi kader lainnya bukan malah mencoreng muka sendiri.
Bahkan loncat partai yang dilakukan isteri Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Widya Pratiwi adalah sikap politik yang tidak mendidik.
“Mestinya, sebagai ketua DPD PDI Perjuangan di Maluku harus menjaga marwah partai. Bahkan harus memahani aturan partai sehingga sikap dan tindakan mesti memcerminkan kader partai yang terdidik” ujar kader perempuan PDI Perjuangan, Nancy Purmiasa di Kantor DPD PDI Perjuangan-Karpan,Ambon, Senin(1/5).
Kader PDI Perjuangan yang menduduki jabatan Wakil ketua bidang organisasi dan keanggotaan DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku itu menegaskan jika perihal kepindahan Widya Pratiwi adalah hak politik beliau . Sayangnya, gaya loncat partai yang dilakukan Widya sangat memprihatinkan dan tidak baik untuk dicontohi.
” Bagi saya, kepindahan ibu Widya Pratiwi ke PAN adalah hak politik beliau. Namun sebagai seorang kader dan politisi sikap itu merupakan tindakan politik yang tidak elok bahkan sangat tidak mendidik” tegas mantan anggota DPRD Provinsi Maluku yang terkenal vokal.
Menurutnya, di PDI Perjuangan dilakukan pengglembengan kader menjadi politisi yang bermoral. Sehingga perilaku kader menjadi santun dan beretika. Kesempatan mengembangkan karier di bidang politik pada PDI Perjuangan mesti menjadi anugerah untuk kepentingan bersama bukan menjadikan itu sebagai sikap yang mementingkan diri sendiri.
” Perempuan PDI Perjuangan tidak bersandar pada oligarti kekuasaan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri atau kepentingan segelintir orang . Namun mesti menjadi anugerah bagi kepentingan bersama dan bukan demi kepentingan pribadi. Perjuangan kader PDI Perjuangan mesti dipakai untuk kepentingan masyarakat sesuai nurani partai” urai Purmiasa.
Ditegaskannya jika sebagai kader perempuan yang dibesarkan oleh partai maka sangat menyayangkan sikap ibu Widya yang masuk secara tiba tiba di partai dan keluar juga secara tiba tiba .
Karena itu secara tegas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan khusus di Maluku tidak rugi dengan pemindahan ibu Widya ke partai lain. Sebab optimisme partai tetap ada satu kursi di Senayan .
” Mekanisme partai sangat jelas sebab merujuk pada aturan organisasi partai. Bahkan untuk pencalegan DPD tidak menentukan penentuan nomor urut . Itu adalah hak DPP” demikian Purmiasa. (T-02)






