MBD,TABAOANews.com.- SD Kristen (YPPK) Bebar Timur, Kecamatan Damer Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) berada tepat dibawah kaki gunung api, sejak dibangun kurang lebih 30 tahun lalu. Hingga kini, belum pernah direnovasi. Padahal kondisinya sudah rusak parah.
Kendati dalam kondisi fisik yang memprihatinkan, bangunan sekolah ini tetap menampung kurang lebih 80 siswa yang ada di kelas 1-6. Semangat anak untuk bersekolah tanpa memandang keterbatasan fisik dengan belajar seadanya menggunakan meja kursi yang lapuk, atap sekolah yang sudah bolong dan dinding kelas pun retak tinggal menunggu waktunya untuk ambruk.
Kehadiran Pendeta Eklin de Fretes di Jemaat Bebar Timur sejak September 2021 lalu pun memantik sebuah asa akan adanya perbaikan demi layaknya sebuah proses pendidikan, selain pelayanan kepada umat.
“30 tahun lebih belum pernah direnovasi, padahal tembok dan atap rusak parah. Dengan kondisi sekolah yang tepat dibawah gunung api, sewaktu-waktu bisa bahayakan siswa yang belajar, jika langkah yang diambil terlambat,” cerita Pendeta Eklin di Ambon.
Renovasi SD Kristen YPPK Bebar Timur salah satu yang jadi target Pendeta Eklin saat ini selama dirinya mengabdi di Desa yang “kaya” sumberdaya alam itu.
Bangunan sekolah terdiri dari 6 ruang kelas, guru PNS 2 orang, 1 pegawai kontrak dan 1 pegawai/guru bantu yang honornya berasal dari anggaran pendapatan jemaat yang serba terbatas.
Untuk merenovasi gedung sekolah maka dibutuhkan anggaran sebesar yang dibutuhkan sebesar Rp 96 juta .
Awalnya, ada inisiatif dari pihak Klasis dan Jemaat untuk saling “sorong bahu” membantu. Namun hal itu urung terjadi, sebab klasis berpandangan, sekolah ada didalam Jemaat, jadi baiknya ditanggulangi dengan swadaya umat.
Disitulah ide dan upaya berdatangan. Modal berani untuk maju jadi pelecut semangat guna mencari dana. Potensi sumberdaya alam yang dimiliki warga seperti pala, kelapa, pisang dan kopra coba dikelola.
Namun mengingat makanan pokok warga setempat adalah pisang, maka itupun menjadi “senjata” ekonomi Pendeta Eklin dan kelompok warga untuk diolah.
“Jemaat sangat mendukung langkah renovasi sekolah. Dimana saat sidang Jemaat tahun ini, rencana tersebut disepakati dan masuk program Jemaat,” urai alumnus Teologi UKIM itu.
Bentuk dukungan Jemaat ialah modal atau dana stimulan Rp 6 juta diberikan dari anggaran pendapatan belanja jemaat untuk usaha pembuatan kripik pisang cokelat oleh panitia renovasi.
Padahal kondisi Jemaat hanya 146 KK, mayoritas bekerja sebagai petani tanaman umur panjang dan pendapatan Jemaat Rp 304 juta/tahun, dengan tanggungan wajib ke Klasis untuk YPPK 1 persen dan tanggungan lainnya.
Sejalqn waktu proses produksi hingga packaging kripik dimulai sejak Agustus lalu dengan menyasar pertama di daerah Damer dan Tiakur, Ibukota Kabupaten MBD.
100 pack pertama didistribusi dengan harga yang terjangkau, 25 ribu/pack saja. Sayangnya, jualan kripik pisang coklat itu tak semuanya laku terjual dan hasilnya tidak sesuai harapan.
“Berharap ketika didistribusi, bisa laku atau setidaknya ada modal lagi untuk perputaran usaha. Karena memang biaya besar di produksi dan transportasi keluar. Maka ketika tidak laku, otak berputar lagi mencari cara lain,” urai Pendeta Eklin yang juga turun mengajar siswa di sekolah tersebut.
Kandas harapan berjualan di kabupaten pilihan mencoba peruntungan ke ibukota provinsi, Kota Ambon pun diambil walau resikonya jelas besar di transport dan distribusi. Semangat baja dengan 300 pack dibawa dan sekarang tersedia di kota Ambon.
Selain pasarkan mandiri dan sebarkan ke sesama teman, kolega maupun sejumlah media sosial (Medsos) pendeta Eklin pun mengambik langkah menyurati para pimpinan Klasis dan pimpinan Jemaat terkait di Pulau Ambon untuk bisa “sepenanggungan bersama” membeli kripik pisang .
Dia berharap, apa yang dilakukan selama ini dan didukung penuh Jemaat Bebar Timur serta penyertaan Tuhan, pada akhirnya semua akan membuahkan hasil walau butuh waktu panjang.
“Katong punya tujuan itu positif. Berdoa dan berusaha saja terus, biar Tuhan yang selanjutnya bekerja dengan antua pung cara. Seperti pepatah, proses tidak akan pernah khianati hasil,” demikian Eklin.
Yah, Asa terajut untuk sekolah Kristen itu bisa direnovasi segera, demi melihat anak-anak Bebar Timur bisa meraih mimpi dan cita seperti Prof Aholiab Watloly, seorang guru besar filsafat dari FISIP Universitas Pattimura (UNPATTI) yang lahir dari sekolah yang “hancur” itu. (T-03)







