AMBON,TABAOSNews.com.- Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena berang dikarenakan dua dari tiga inovasi yang telah dilaunching saat HUT ke-447 Kota Ambon 7 September lalu, hingga kini tak kunjung mampu dieksekusi organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Kedua inovasi yang buat “berang” Penjabat ialah orang tua asuh stunting oleh pejabat Pemkot dan Kalesang Kintal Kosong. Hanya satu inovasi yang sudah jalan yakni Jiku Bata (Sudut Balaikota), pemasaran produk UMKM lokal di Balaikota Ambon.
Wattimena tegaskan, dirinya ingatkan OPD terkait bahwa inovasi yang telah dicanangkan hampir tiga bulan ini merupakan program prioritas demi kepentingan daerah dan masyarakat di kota Ambon, bukan diluar itu.
Senin pekan depan pun menjadi deadline waktu darinya kepada OPD terkait agar segera implementasikan kedua inovasi tersebut.
“Saya cuma ingatkan, sementara didata katanya. Cuma maksud saya sudah dari tanggal 7 September, mau masuk bulan ketiga. Jadi saya harap Senin nanti sudah bisa kita berikan bantuan untuk anak-anak stunting,” pintanya di Ambon, Rabu (2/11).
Memang kata Wattimena, sudah di inventarisir 300 lebih pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon yang siap untuk menjadi orang tua asuh stunting. Namun rentang waktu tiga bulan yang belum terealisasi, maka perlu diingatkan lagi.
“Harus diingatkan lagi dan segera dibuat agar kita buat dan menunjukkan kepada publik bahwa kita serius dalam semua kebijakan yang dibuat. Ini kan soalnya di sudah didata, tapi belum direalisasikan. Itu yang saya marah,” tegasnya.
Ditegaskan Wattimena, bahwa apapun yang sudah menjadi kebijakan selaku Penjabat Walikota harus jalan, yang semata-mata untuk membantu masyarakat. Sebab prinsipnya tidak ada kebijakan yang merugikan masyarakat.
“Saya harap paling tidak di Minggu kedua November ini kita sudah laksanakan kedua inovasi itu. Kalau belum juga maka saya akan hapus/batalkan program itu. Sebab prinsipnya tidak sekedar launching, harus implementasi. Saya yakin kita semua ingin kota ini jadi lebih baik kedepan,” harapnya.
Akumulasi dari ketidakmampuan OPD dalam eksekusi apa yang jadi program dan kebijakan yang telah diambil kata Wattimena, tentu akan jadi evaluasi terhadap pimpinan OPD yang bersangkutan.
“Iya, iya dong. Itu akan menjadi evaluasi. Nanti kita lihat, mana orang yang mau untuk memberikan kepada masyarakat dan mana yang tidak. Tapi saya yakin semua akan melakukan itu. Cuma saya ingatkan saja,” tutup Wattimena. (T-03)








