AMBON,TABAOSNews.Com.- Aksi demonstrasi damai yang digelar Aliansi Pencinta Alam Maluku di halaman kantor DPRD Maluku, menarik perhatian . Aksi tersebut dilakukan karena Kepala Balai Taman Nasional dinilai gagal menjalankan fungsinya sehingga pendaki asal Bogor bernama Firdaus Ahmad Fauzi (27), yang hilang selama 22 hari di Gunung Binaiya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Sungai Yahe .
Jenazah pria asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu ditemukan hanyut di sungai dalam kawasan gunung Binaiya-Maluku Tengah.
Pendaki tersebut dilaporkan hilang di jalur pendakian Gunung Binaiya di Nasapeha, Kecamatan Tehoru pada Sabtu (26/4/2025) sekitar pukul 17.30 WIT. Selama hilang, korban hanya membekali diri dengan 3 botol air minum tanpa makanan.
Koordinator aksi Aliansi Pencinta Alam Maluku, Maldin Salampessy menyampaikan 5 point dalam pernyataan sikap, yakni, 1. Pencopotan Kepala Balai Taman Nasional Manusela atas kelalaian dan buruknya manajemen tanggap darurat. 2. Evaluasi menyeluruh terhadap sistim keselamatan dan SOP pendakian di seluruh kawasan Taman Nasional Manusela. 3. Permintaan maaf terbuka dari Kepala Balai Taman Nasional Manusela kepada keluarga korban dan publik.
4. Pembentukan tim independent untuk investigasi menyeluruh terkait peristiwa ini. 5. Penyelesaian konflik pemanfaatan ruang hidup antara masyarakat adat dengan Balai Taman Nasional Manusela.
” Kami juga sangat prihatin dengan pembatasan kepada masyarakat adat yang dilakukan Balai Taman Nasional Manusela”ujarnya di ruang Komisi II DPRD Maluku, Rabu (28/5).
Sementara itu , Ketua Komisi II, Irawadi yang turut menerima aliansi Pencinta alam Maluku memberi respon positif terhadap aksi damai yang berjuang atas kepedulian sesama pendaki .
Dirinya mengatakan akan ada pertemuan selanjutnya dengan pihak Balai Taman Nasional sehingga apa yang menjadi tuntutan akan disampaikan.
Rovik Afifudin yang sejak awal turut menerima aliansi Pencinta alam Maluku turut memberi acungan jempol atas kepedulian sesama pendaki yang ditujukan kepada Firdaus.
” Ini moto kita orang Maluku, sagu salempeng patah dua, potong di kuku rasa di daging. Luar biasa sikap kemanusiaan yang rekan-rekan pendaki perlihatkan kepada dunia dalam mengenalkan Maluku dengan alamnya dan rasa kepedulian yang menembus aturan apapun, salam toleransi” ujar Afifudin. (T-01)







