Nyong Aru Dengan Segudang Prestasi

by -18 views

AMBON,TABAOSNews,News.- Nyong hitam manis (33) lahir dari Ayah dan ibu yang hanya seorang petani dari Desa Ngaibor, sebuah desa kecil nun jauh di Kecamatan Aru Selatan Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.

Keinginan kedua orang tua untuk melihatnya berhasil, harus dia wujudkan walau ditengah kondisi ekonomi yang pas-pasan.

Keluar dari tanah Aru, nyong Aru dengan nama lengkap Abraham Soyem, kelahiran 17 Februari 1989 itu selepas SMA. Kota Ambon, ibukota Provinsi pun disasar.

Tahun 2007, bermodalkan sedikit fasih berbahasa Inggris, hatinya ditambatkan ke Jurusan English Departmen FKIP Universitas Pattimura (Unpatti).

Akan tetapi semasa kuliah, Bams sapaan akrab Abraham, sering jadi korban bullying atau ejekan teman-teman dan seniornya, bahkan di depan umum. Lantaran dia anak kampung dari keluarga seorang petani.

Meski diejek, Abraham tak malu miliki orang tua yang kesehariannya hanya di kebun, bercocok tanam. Dia terus melaju studi hingga jadi sarjana pendidikan (SPd) di kampus Hotumesse.

Pepatah usang yang sering didengar “Tuntutlah Ilmu hingga Negeri Cina” nampak kemudian tidak berlaku bagi seorang Abraham Soyem.

Yah, sebab dia tak ingin studi hanya berakhir di Ambon, Maluku. Harus menuntut ilmu melewati Negeri Tirai Bambu, China yang ada di benua Asia.

Benar saja, beberapa tahun selepas S1,
Abraham sudah mendapat kesempatan belajar di negara-negara asing dengan sejumlah beasiswa diantaranya Australian Awards Scholarship, ELE FOCALE, Spanish Colombia, Amerika Latin, YSEALI dan terakhir program United States of Amerika.

Negari paman Sam, United States of America (USA) pun menjadi labuhan terakhirnya.

Abraham kini sedang menempuh pendidikan Magister di School of Business, The George Washington University, USA.

Kesempatan mendapat beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia ke USA pun dia tidak ingin sia-siakan. Belajar di Negeri Paman Sam, baginya memiliki kenikmatan tersendiri.

Kenikmatan itu terbukti. Karena studinya di negera “adidaya” itu akan selesai Desember 2022 mendatang. Setelah ia mulai menapak di pertengahan 2021 lalu.

Artinya, pria yang memiliki senyum manis ini
hanya butuh waktu 1,5 tahun untuk merengkuh gelar magister S2.

Waktu studi yang terbilang “kilat” dan sulit dipercaya bagi sebagian orang. Karena biasanya, lulusan S2 menempuh studi paling cepat 2 tahun.

Tapi bagi Abraham hal itu sangat mungkin dan terjawab. Sebab tekadnya, ingin banggakan kedua orang tua yang punya harapan melihatnya sukses, karena sudah lebih dulu berpulang serta tanah kelahiran.

Di Amerika juga lah, Abraham dicatat sebagai mahasiswa yang berprestasi. Sejumlah prestasi akademik sukses ia raih.

Salah satunya diberikan kepercayaan oleh School of Business untuk bergabung dalam Project Business Research dengan USAID di GEORGIA, Eropa Timur baru-baru ini untuk membantu pemerintah Georgia dalam hal mengelolah dan mengalisis Business potensi pada level internationl marketing.

Berkat sederet prestasi tersebut dan lainnya yang “moncer” di Negara yang dipimpin Presiden Joe Biden itu, diakhir semester kelulusannya, Abraham diterima bekerja di Euro Company The Watergate Management sebagai Analyst and Market Demand.

Sebuah perusahaan yan bergerak di bidang property, dan baru saja diterima kerja di World Bank Group, IMF International Monetory Fund, Washington DC Amerika Serikat.

Perjalanan Abraham Soyem, sang “Mutiara dari Aru” yang sudah yatim piatu ini tentu menjadi jejak-jejak inspiratif bagi anak-anak muda Aru lain dan Maluku pada umumnya, yang hari ini masih saja patah “arang” dan berleha-leha menuntut ilmu.

Selama ada tekad, kemauan serta usaha, tidak ada kata “TIDAK MUNGKIN” di dalam kamus kehidupan. Sebab hasil yang dicapai tak pernah khianati proses yang dijalani dengan sungguh. (Iwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.